Minggu, 10 Februari 2013

Ketertarikan Pada Sebuah Buku

Assalamualaikum.Wr.Wb.
Salam Robayat bo Utat.

Tak sengaja saya sempat membuka sebuah situs dari salah satu anggota Komisi IX DPR Rieke Diah Pitaloka, Yang juga mempunyai latar belakang Aktris 90an sejak itu.
Tulisan yang terpapar dalam sebuah Website itu merupakan   persepsinya terhadap “Kekerasan Negara” Membuat saya termenung dan menganggukan kepala.
Ada beberapa hal yang ia tulis, namun, saya coba untuk memperkecil lagi wilayah maksud dari buku tersebut,  diantaranya ada empat kekerasan yang dibuat/direkayasa oleh sekelompok orang yang mempunyai kepentingan dalam konflik disebuah negara, diantaranya :
  • Represi yang dilakukan secara langsung oleh aparat negara dengan berbagai sarana koersifnya.
Menurut admin :   Ini sebuah  kejadian atau persitiwa yang memang terjadi begitu saja. Atas dasar dengan mempunyai fasilitas yang mampu “menakuti-nakuti” rakyat sehingga sewenang-wenang, bisa membuat  gerakan yang radikal oleh pihak aparat, saya setuju dengan poin pertama. 
  •   Melatih paramiliter menjadi kelompok setia kepada penguasa untuk melakukan tugas-tugas kotor (kriminal) dengan membungkam, mengintimidasi, memeras, meneror. menculik, sampai membunuh.
Menurut Admin :  Hal ini tentunya tak asing lagi ditelinga, kita lihat Hitler dengan Ideologinya, dimana Ia mampu untuk merebut negara jajahannya hanya dengan memanfaatkan fasilitas militer dan aparat. Bisa hal yang mungkin  ini terjadi di indonesia, dan mungkin memang terjadi, putar kembali fikiran anda tentang tragedi tumbangnya sukarno, dan G 30SPKI. Sungguh analisis yang tajam. Saya setuju dengan poin kedua.
  • Melatih para kriminal (preman) untuk melaksanakan proyek insidental seperti kerusuhan,                      penculikan,                  atau pembunuhan.
Menurut Admin : Melihat dari skala indonesia mungkin belum banyak yang mengetahui tentang peristiwa seperti ini, tapi bukan berarti itu tidak pernah ada, salah satu contoh di daerah Indonesia bagian Tengah, disebuah daerah dengan semboyan Adat bersendikan  Sara dan sara bersendikan kitabulah. Sudah menjadi hal yang bebas dikalangan masyarakat ,dimana walikota mempunyai sekolompok orang yang berada di garda depan untuk melawan siapa saja yang berani membangkang yakni premanisme. Saya setuju dengan poin ke tiga.
  • .  Menciptakan konflik horisontal antarkelompok masyarakat yang berbeda etnis/agama.
Menurut Admin : Sangat jarang memang orang bisa membuat rekayasa seperti ini, harus  memerlukan kondisi yang matang tapi apapun itu, namanya kepentingan semuanya pasti bisa dikorbankan. Tragedi poso, tragedi maluku. Papua, semuanya bisa jadi hanya rekayasa. Sangat setuju.
Sekian dulu  catatan tanpa makna dan analisis yang bangkung.
Pahlawan tanpa tanda pengenal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar