Kamis, 29 Januari 2015

Boli Toigu Noponag Au

Firman: Diya Mosesuai Takin Lopi Mogaid

Petani Toigu Kon Mongkonai 
Mulai kon panen toigu bulan tayowon, in petani minta  toigu dayit nokecewa  sin boli in toigu  diya  motatap.  Diniminggu tana’a bolinya Rp 3000 ribu pabi perkilo, na’anda  diminggu tayowon noponag pidon dongka bidon Rp. 2300 Perkilo. Bolinya tua totok bi   noponag aka pobandingan takin bolinya kolipod pa.    

Ki Firman Paputungan, Petani toigu nokon Mongkonai Kecamatan Kota Barat (Kobar) kai’nia kain, toigu  kon pasar tonga mo laku  Rp 2300 perkilo. Masalahnya tana’a momia kon petani minta  toigu modayit  moliondok bui mo munak kon toigu sin ingaton bolinya na’a diya mo sesuai takin lopi mogaid.

“ Yo na’anda pa aka mota’aw mojujur penghasilan panen  nami  taong  tana’aaya,  diya moko tompod kon kaparluan pomoloi singgai tonga moyobobot kon pogogutat mulai maya kon kopatoian bo ponikaan, diya pa doit sikolah adi, bo doit toya pomoloi singgai” O’uman I Firman.  

Kaluhan notongkai pinoguman doman in petani ibanya, Ulog Potabuga petani intaw Mongondow Kecamatan Kota Selatan (Kotsel) tana’a, kai’nia boli in toigu manangka  noponag  yo pinogogitog in mototibo kon toigu bolinya manangka tua  bolinya totok bi noponag.  

 “Panen Taong tana’a Bolinya totok don noponag  tapi mokoherang  bi  sin bolinya noponag bambi moibaya kon musim panen”. Kai Ulog , Kamis  (29/01)

. Harapan monia kasi, pomarinta minta kon Kotamobagu indeyay pa nasib nami na’a. “Intongay  pa  boli  toigu  na’a ule  ba oyuon pa  po taluyan nami kon keperaluan kobiagan nami” Tua pa  pinodapot  mako kon  intoi kotamobagu    

Rabu, 28 Januari 2015

Dua Jurnalis Progresif di Bolmong Jaman Doeloe



Penggalan karya jurnalistik Tempo Doeloe
Bolaang Mongondow (Bolmong)  tempo dulu memiliki jurnalis yang progresif pada masa itu, mereka adalah dua orang bersaudara Anton Cornelis Manoppo dan Johan Manoppo, melalui karya jurnalistik mereka berdua yang cukup kritis itu sering dikenai Hak “Exorbitan” larangan berdiam diri atau pengasingan di daerah tertentu sebab tulisan-tulisan yang dimuat pada surat kabar berbahasa belanda De Courant Nieuws van de Dag yang diterbitkan dipulau jawa di hindia belanda tersebut justru dianggap menganggu keamanan dan ketertiban diwilayah Hindia dan Belanda  Oleh Gubernur Jendral di Batavia kala itu. 

"arsip koran itu sayangnya masih tersimpan di perpustakan KITLV Leiden Belanda” Tulis Penikmat Sejarah,  Ayi modeong dalam akun FB nya

Salah satu tulisan  yang cukup progresif  karya jurnalistik Johan Manoppo adalah tentang penyalah gunaan keuangan di swapraja Bolmong pada tahun 1938. Selain itu Johan juga pernah menerbitkan koran Rakjat Bolaang Mongondow yang sempat terbit beberapa edisi. Sementara Anton Cornelis Manoppo selain menulis dengan gaya mengkritiknya, ia juga seorang aktifis pergerakan pada zaman Negara Indonesia Timur (NIT) tahun  1946, Anton menjadi anggota parlemen dalam fraksi yang progresif dengan  melawan belanda bergabung dengan republik di Jogjakarta setelah NIT.

Jenis Seni Kerajinan Orang Mongondow



Dari berdasarkan penelusuran blogspot Lp, terdapat sejumlah jenis seni kerajinan orang mongondow yang nyaris punah, Tim berinisatif mengankat kembali beberapa jenis seni kerajinan tersebut yang pernah di tulis oleh Bernard Ginupit, pada bukunya  Kebudayaan Daerah Bolaang Mongondow, 1996. Nah, demikian jenis kerajinan orang mongondow 

Menganyam Tikar Rotan Atau Patang,  adalah tikar yang dikerjakan oleh seorang pria, biasanya menggunakan bahan rotan untuk dijadikan tikar

Menganyam Tikar Pandan atau biasa di sebut Bolad. Tikar ini menggunakan bahan yang sama hanya saja bahan tikar tersebut diberi warna-warni mulai merah,hijau,kuning, biru dan ungu biasanya yang membuatnya adalah seorang wanita

Tempat Sirih Pinang atau Kabela, wadah tersebut dibuat dari Gabus pelepah rumbia yang dihiasi manik-manik halus berwarna-warni dengan berbagai  motif ada yang bergambar manusia, binatang, atau daun tumbuhan. Bentuk kabela seperti kotak segi empat  berukuran panjang kira-kira 20 cm, memiliki lebar kira-kira 14 cm dan tinggi kira-kira 12 cm. Bagi wanita yang membuat Kabela biasanya dipakai menjadi khiasan dirumah.

Membuat Tudung Saji (kokusadi) Yang terbuat dari gabus pelepah rumbia berbentuk kotak, silinder terpancung, piramida terpancung atau prisma. Dibungkus dengan daun silar yang diberi warna-warni sama seperti warna pada kabela. 

Serta beberapa alat pelengkap kebutuhan rumah tangga dan pribadi yang terbagi berbagai macam diantaranya, Tempat penampisan beras atau Dodigu, Keranjang Atau karansi, Kuyon Buta atau belanga tanah, pingku atau piring yang terbuat dari pelepah rumbia, uka atau tempurung yang dijadikan mangkuk, Dodangoian atau alat masak sagu, Dulang atau loyang terbuat dari kayu,dan  Kalalusu atau alat tapis,Kodapa tempat pembuangan sampah, serta  Lotung atau lesung.

Bukan  hanya itu, juga terdapat kerajinan membuat alat penangkap ikan seperti Pole sebuah anyaman dari bambu yang berbentuk bulat mengerucut, Tomoing atau Anyaman bambu berukuran besar, Kalenda adalah jaring ikan,Keambu seperti jaring ikan tapi dengan ukuran kecil.  Juga terdapat kerajinan menempa besi dengan cara membuat Parang  atau pitow dan pisau atau Tosilad.

Selasa, 13 Januari 2015

Bungko asal kata “ Berbongko-Bongko” yang artinya Bukit

Desa Bungko adalah salah satu desa yang berada dikecamatan Kotamobagu Selatan (Kotsel). Dari informasi yang dihimpun, Desa Bungko berdiri pada tahun 1911.  Diceritakan sebelum menjadi sebuah desa kabarnya lokasi tersebut masih berupa pendukuan dengan kondisi geografis tanah yang berbukit-bukit.  
Saprudin Paputungan, Sangadi Desa Bungko
Seiring berjalanya waktu, jumlah  warga di pendukuan itu semakin membanyak, para warga lain seperti Tabang, Kopandakan dan Matali  mulai berdatangan, Akhirnya para warga yang berasal dari berbagai macam kampung itupun membentuk sebuah wilayah adminitrasi yang diberi nama desa Bungko atau dalam bahasa mongondow Bongko yang artinya bukit. Desa Bungko menjadi desa Definitif pada masa pemerintahan sangadi (Kepala desa.red) Babuyongki Makalalag (1911-1914).

Sejak diresmikan desa bungko maka pada tahun 2011 jumlah penduduk desa sebanyak  1.506 Jiwa yang terbagi menurut jenis kelamin, laki-laki 681 jiwa dan perempuan 825 jiwa serta memilik luas wilayah 7,25 Km2. Desa Bungko yang masuk dalam Kecamatan Kotamobagu Selatan (Kotsel), pada tahun yang sama pula warga desa Bungko mendirikan Tugu Monument Peringatan 1 abad lahirnya  desa bungko dari tahun 1911-2011 tepat disamping lapangan sepakbola.  
Monumen peringatan 1 abad berdirinya Desa Bungko
 Adapun masa kepemerintahan atau sangadi sejak berdirinya Desa Bungko terdapat 26 kepala desa diantaranya, Babuyongki Makalalag (1911-1914),  Uyun Tungkagi (1914-1918), Pajwa hasan (1988-1922), Djuani mokoagow(1922-1925), Sai paputungan (1925-1929), Tompjud paputungan(1929-1932), Antena mamonto ( 1932-1938), Losik lobud (1938-1940), Paka sugeha (1940-1942), Hein mangkat (1942-1944), Arsyad damopolii (1944-1946), Hi. Tome Gonibala (1946-1948), Simong Paputungan (1948-1949), Hi Tome Gonibala (1949-1951), Andup T Mokolindat (1951-1953), Paulus Balompampung (1953-1956), Hi. Tome Gonibala (1956-1958), Laute linu(1958-1959), Karel b dandi (1959-1961), Hi. Tome Gonibala(1961-1977), Awad tungkagi(1977-1996), Djana paputungan (1996-1999), Awad tungkagi (1999-2007), Syawal K Dandi(2007-2008), Asral Impe(2008-2009), dan Saprudin paputungan 2009 hingga sekarang.

Sementara itu, sejak kepempinan Saprudin, Desa Bungko mulai nampak pembangunannya, bahkan pihaknya ditahun 2015 ini akan mengfokuskan pada pembangunan diwilayah tersebut, salah satunya pembangunan sarana tempat ibadah. “ Saat ini kita lagi berupaya membangun Masjid” Singkat Sangadi Sambil Berpose dihadapan kamera untuk didokumentasikan.

Danau Moat Cikal Bakal Lahirnya Desa

Desa Moat adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Modayag Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim).  Desa Moat terletak di bawah kaki  Gunung Ambang atau berada dtepat di batas wilayah hutan lindung.
Desa tersebut,  dikabarkan hasil pemekaran dari desa Bongkudai. Diceritakan bahwa pada saat jumlah penduduk di  Desa Bongkudai semakin padat maka sejumlah  kelompok warga Bongkudai memisahkan diri,  sehingga membentuk satu pemukiman berada dikawasan Danau Moat. Seiring berjalanya waktu, jumlah kelompok di pemukiman tersebut semakin banyak,  maka pada tahun 1960 dibawah pimpinan  Sariyan Mamonto pemukiman itu dinamakan Desa Moat, yang diambil dari nama Bahasa Mongondow “Oat” yang artinya “Daratan bekas genangan air”.
Danau Moat
Danau yang berada dikawasan cagar alam Gunung Ambang dengan luas danau  617 hektar (Ha) itu,  adalah cikal bakal lahirnya sebuah Desa moat.
Pada tahun 1967  Mo’at didefinitifkan/ resmikan sebagai Desa yang sah oleh Bupati Un Mokoagow. Saat itu pula mulai dibentuknya kepemerintahan Desa, dimulai dengan  Sangadi Ismail Mamonto (1967-1986), Tawakal Mamonto(1986-1990), Yop Mamonto ( 1990-1992), Madi Mamonto (1992-1994), Ali O Mokoagow ( 1994-1996), Yop Mamonto (1996-2005), Rovier R Panggalila (2005-2009), Asrin Mamonto (2009- Hingga sekarang).
Informasi dirangkum, kondisi sosial yang berada di Desa tersebut, memiliki jumlah penduduk sebanyak 563 orang yang terdiri dari laki-laki 295 orang, Perempuan 268 dan  yang berkeluarga berjumlah 120 keluarga.
Sementara untuk pendidikan, terbagi beberapa kategori yakni, tidak sekolah 58 orang, Tamat Sekolah Dasar 160 orang, Tamat SMP 100 orang dan Tamat SMA 84 orang, dan sarjana hanya berjumlah 8 orang.
 Dari data ini, tentu masyrakat moat masih butuh penyerapan pendidikan serta pembangunan yang masih kurang diperhatikan oleh pemerintah.
Perkebunan Rempah-Rempah
Padahal  Masyarakat Desa Moat memiliki kekayaan hasil bumi yang cukup luar biasa, sebab ditumbuhi berbagai macam jenis sayuran, antara lain Sayur Kol, Bawang Batang, Kentang, Tomat, Soldrey serta berbagai macam tumbuhan rempah-rempah lainya, jenis rempah-rempah tersebut adalah sumber pendapatan bagi warga setempat. “ Biasanya para pemborong dari luar daerah datang disini ambil sayur dengan jumlah yang besar” ujar Asrin Mamonto, Sangadi Desa Moat.
Asrin Mamonto, Sangadi Desa Moat
Bukan hanya itu, bahkan di sekitar Desa Moat juga terdapat Pulau yang diberinama Pulau Libuton. Konon katanya pulau tersebut terdapat makam kuno sepanjang Tujuh meter yang ditumbuhi Batang Cabe dengan ukuran raksasa.
Pulau Libuton
Pinoguman i ajusku kolipod pa, kon pulau tua Oyoun bi in Kuburan molanggo bo pangkoy mareta ta koloben pangkoy bango,”  (Diceritakan ibuku, dulu  di pulau tersebut ada sebuah kuburan kuno yang panjang dan ditumbuhi tanaman rica dan pohonnya sebesar pohon kelapa), cerita Sangadi, rria berumur 40an itu ketika  bersua dengan wartawan di rumahnya. Sabtu (10/01) akhir pekan kemarin.

Minggu, 11 Januari 2015

Sejarah Desa Tungoi


==Tungoi Diambil Dari Nama Sungai =




Terdengar sebuah cerita daerah pedesaan yang subur, tumbuhan yang menghijau, di atas tanah yang datar di tumbuhi pohon dan semak yang masih lebat, hiduplah sekelompok masyarakat rukun dan damai. “ Desa Tungoi “orang menyebutnya. 9,5 Km kearah barat dari kota Kotamobagu Sulawesi utara .
Kondisi Kantor Desa Tungoi Sangat memprihatinkan

Dari informasi yang dirangkum Tim Blog Lp dari penuturan orang tua dulu bahwa nama Desa tungoi diambil dari sebuah sungai yang berbentuk tanduk dan mengalir disepanjang pinggiran desa, “Tanduk” yang dalam bahasa daerah mongondow disebut “Tungoi” .
konon menurut cerita para orang tua bahwa masyarakat Desa Tungoi adalah penduduk desa kopandakan yang datang berkebun, yang lama kelamaan berkembang menjadi sekelompok masyarakat yang kemudian menjadi sebuah pedukuan.

Pedukuan Tungoi pada waktu itu (tahun 1911) masih dibawah pemerintahan desa Kopandakan Uyun Tungkagi  1911 – 1913 dengan jumlah penduduk ±. 176 jiwa terdiri dari 91 laki-laki dan 85 perempuan dan terbagi dalam 52 kepala keluarga, yang pada waktu itu hanyalah beberapa penduduk Desa Kopandakan yang datang berkebun di Tungoi, status pedukuan Tungoi itu sendiri berlangsung ±.17 tahun (1911 – 1928) dimulai dari Pemerintahan berturut turut Sangadi Uyun Tungkagi (1911 - 1913). Djumaat ( 1913 – 1914), Lauseng Lamaluta ( 1914 – 1915 ), Regen Manoppo (1916 – 1921 ), Lauseng Lamaluta (1921 – 1925 ), Ubong Bangki (1925 – 1926 ) dan Angu Bayowa (1926-1928). Hingga  pada tahun 1928 Tungoi  dibawah pimpinan Sangadi Okolo Pobela (1928-1930) diresmikan menjadi desa definitif yang kemudian mencetuskan “Tungoi” sebagai nama desa.   

Penduduk Tungoi pada saat Pemerintahan Sangadi Okoli Pobela adalah sebanyak 76 kepala keluarga yang terdiri atas 214 jiwa, 111 laki-laki dan 103 perempuan, Sangadi Okoli Pobela pun pada waktu itu mulai menyusun pembantu sangadi atau perangkat desa yang akan turut membantu Pemerintahan Sangadi dalam membangun desa di tengah peperangan tentara republik dengan kolonial Belanda. Di jaman itu pula sempat didirikan sebuah sekolah kolonial belanda di Desa Tungoi yang bernama “Sekolah Dasar Sending (N.Z.G)” namun yang dapat mengenyam pendidikan disekolah tersebut hanyalah orang orang Hindia Belanda dan beberapa anak pribumi yang berpihak ke tentara kolonial.

Desa Tungoi terletak didataran rendah dan termasuk salah satu desa di kecamatan Lolayan Kabupaten Bolaang Mongondow. Jarak dari ibukota Kabupaten ( Lolak ) ±. 40 km sedangkan ibukota propinsi
 ( Manado ) ±.210 km yang di hubungkan dengan jalan trans sulawesi yang melintas membela desa.

Desa Tungoi I mempunyai luas wilayah ±. 5.000 ha yang terbagi dari sawah 315 Ha, Tanah Pekarangan 48 Ha, Ladang 758 Ha, Tanah Kering 280 Ha, Hutan 3.400 Ha serta lainya sekitar 55 Ha.  Wilayah Desa Tungoi I  pada  Tahun 2011 mempunyai jumlah penduduk ±. 3.346  jiwa dan memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut  :
-. Utara berbatasan dengan Desa Mopait dan Persawahan
-. Timur berbatasan dengan Desa Tungoi II dan Sungai Ongkag Mongondow
-. Selatan berbatasan dengan Perkebunan Tungoi
-.  Barat berbatasan dengan Desa Tapa Aog
 
Lapangan Terbang Yang masih bersttus perintis
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, pembangunan desa Tungoi pun berlanjut satu di antaranya adalah pembangunan lapangan terbang perintis Tungoi yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat dan di bantu oleh kebanyakan warga desa, serta pembebasan lahan untuk pembangunan jalan raya Akd  sampai ke Dumoga, bersamaan dengan berkembangnya jumlah penduduk pada waktu itu dikarenakan banyak warga pendatang yang masuk dan berdomisili di desa Tungoi,


Ditahun 1966 pada saat pemerintahan Desa Tungoi ditunjuk sebagai Ibukota dari Kecamatan Lolayan, karena dari semua desa yang ada di Kecamatan Lolayan, Desa Tungoi lah yang di anggap oleh Pemerintah Kecamatan paling maju  ( dalam bidang Pemerintahan, Pembangunan dan Kemasyarakatan) sehingga di tahun yang sama itu pula Pemerintah Kecamatan membangun prasarana pendukung di Desa Tungoi  sebagai ibukota kecamatan dengan meminjam tanah tanah masyarakat Desa Tungoi pada waktu itu, seperti Kantor Camat Lolayan (yang sekarang ini menjadi SLTP PGRI Tungoi), Kantor Polsek Lolayan ( yang saat ini tanah dan bangunannya telah diserahkan dan ditempati oleh Kel Djerson Kaesang) serta Kantor Koramil Lolayan yang saat ini masih menjadi Gedung tua di samping Lapangan olah raga Desa Tungoi I, Pada tahun 2010 Desa Tungoi I yang semula hanya berjumlah 4 (Empat) Dusun dimekarkan menjadi 10 (Sepuluh) Dusun guna untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dan memudahkan kontrol kepada masyarakat karena luas wilayah yang besar serta jumlah penduduk terbanyak di Kecamatan Lolayan .


 Sedangkan mata pencaharian penduduk saat ini lebih besar ( 80 % ) menjadi petani dan buruh tani, sedangkan sisanya ada yang menjadi Pegawai Negeri Sipil. TNI. Polri, Karyawan Swasta, pedagang.  Menurut catatan dari pihak desa dimana Kepal Desa (Sangadi ) semasa itu tercatat sebagai berikut,Uyun tungkagi (1911 – 1913), Djumaat (1913 – 1914), Lauseng Lamaluta (1914 – 1915) , (Regen Manoppo 1918 – 1921), Lauseng Lamaluta (1921 – 1925), Ubong Bangki (1925 – 1926), Angu Bayowa (1926 – 1928), Okoli Pobela (1928 – 1930), Uon Mokoagow (1928 – 1930) Bulow Bangki (1930 – 1939) Panga Amboi (1939 – 1950) Daag Kobandaha (1950 – 1951) Johanis Pinontoan (1951 – 1952) Abas Ompig (1967 – 1968), Ula  D. Kobandaha (1968 – 1974) Salam Paputungan (1974 – 1976) Ula  D. Kobandaha (1976 – 1979) Musa Abane (1979 – 1984) Abas Ompig (1984 – 1993) Herry Lewan (1993 – 2008) Ahmad Yani Tolat, SH (2008 –2013) Drs Djunaidi  Imban 2013 hingga sekarang.