Minggu, 17 Juli 2016

Surat Dari Pemilik Papan Tulis

Akhir dari sebuah Cerita
Foto bersama Bang Martin Aleida seorang sastrawan yang lahir di Tanjung Balai, Sumatera Utara, pada 1943. Selain melahirkan karya-karya sastra, mantan jurnalis yang pernah menempuh studi lingustik di Georgetown University, Washingotn D.C, Amerika Serikat, ini juga pernah bekerja di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sejumlah media massa.
Sudah hampir setahun tulisan mungil acak dan banya coretan belum terupdate karena berbagai alasan mulai dari tenaga hingga finansial atau lebih tepatnya sibuk dengan dunia nyata..hehe.. saya sangat merasa berdosa ketika blog gratisan tempat curahatan hati ini tak lagi dibuka, sudah gratis tak diisi pula..karena saya saat itu sibuk dengan #Sayembara mencari sang jantung sibuah hati. Sebelumnya saya katakan dan tegaskan setegas-tegasnya, blog gratisan ini bukanlah media jurnalistik bukanpula majalah dewasa. Blog gratisan ini hanyalah media yang hanya sekedar mencurahkan isi hati,saki hati,patah hati, keresahan dan pemikiran pribadi hingga rumah saki.
Blog gratisan ini mulanya muncu berawal dari ketidakseriusan, menulis yang tidak tidak terstruktur dan sistematis,penulis yang tidak jelas dan tak tau arah dan tujuan ,tanpa konsep, hanyalah sekedar ikut-ikutan dan tuntutan zaman.
Blog gratisan yang saya buat ini hanyalah  berisi beberapa tulisan saja, menceritakan tentang pengalaman pribadi pada tahun 2012 sejak saya masih bergelut di dalam dunia jurnalisitik. Harapanya semoga apa yang dituliskan disini  dari awal hingga akhir sebuah cerita mudah-mudahan dapat memberikan secercah harapan bagi pembaca yang tak memiliki masa depan..Semoga.


Jumat, 13 Februari 2015

Danau Yang Tersembunyi Di Desa Tapa Aog

Selain Danau Tondok dan Danau Moat yang berada dikecamatan Modayag Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), ternyata ada pula danau yang tersembunyi dui ketinggian gunung, danau ini terletak di Desa Tapa Aog Kecamatan Passi Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), sebuah danau yang tak banya orang ketahui yakni Danau Tonsule.
Danau Tonsule 
 Pagi itu, terdengar suara nyanyian burung yang merdu, angin sepoi-sepoi yang menyejukan ditambah lagi dengan pohon-pohon yang hijau dan rindang  melingkari danau tersebut, kondisi itu membuat setiap orang yang melintas dilokasi itu ingin berlama-lama. Dipinggiran danau terlihat seorang pria tua yang hendak melemparkan sesuatu di tengah danau memakai baju kaos dan penutup kepala ala mongondow (Tolu). Tete Rahman begitu orang memanggilnya ternyata Ia sedang memancing berharap ikan memakan umpanya, Ketika hendak menyapa sembari bertanya, ia mulai berkisah dengan panjang lebar, dikisahkan dulunya lokasi ini bermula hanya tempat telaga ikan yang hanya dialiri empat Bukaka (Mata air gunung.red ) , namun dengan luas wilayah yang kecil tak mampu menampung menampung volume air sehingga membanjiri dan meluas membentuk seperti Danau. Masyarakat menamakan Danau Tonsule. Dari penamaan Tonsule  sendiri, diambil dari nama pohon kayu besar yang tumbuh  disekitar itu.


Konon katanya, danau tersebut pernah menelan korban berjumlah empat orang yang tidak lain adalah kaka beradik namun sayangnya ke empat korban itu hingga kini belum juga didapat. “Dulu ada yang mandi disini kong tenggelam, pertama kaka ade kemudian danau ini menelan korban lagi kaka ade lagi ,” Cerita tete berusia 70an itu sembari menawarkan Rokok Cristal di pinggir danau. Kisahya, setiap malam bulan pernama kerap terdengar suara gemuruh  ombak. “ Torang disini sobiasa jaga dengar suara ombak di danau ini, jadi nimbole heran” ucap Tete Rahman sembari melempar umpan.

Kamis, 29 Januari 2015

Boli Toigu Noponag Au

Firman: Diya Mosesuai Takin Lopi Mogaid

Petani Toigu Kon Mongkonai 
Mulai kon panen toigu bulan tayowon, in petani minta  toigu dayit nokecewa  sin boli in toigu  diya  motatap.  Diniminggu tana’a bolinya Rp 3000 ribu pabi perkilo, na’anda  diminggu tayowon noponag pidon dongka bidon Rp. 2300 Perkilo. Bolinya tua totok bi   noponag aka pobandingan takin bolinya kolipod pa.    

Ki Firman Paputungan, Petani toigu nokon Mongkonai Kecamatan Kota Barat (Kobar) kai’nia kain, toigu  kon pasar tonga mo laku  Rp 2300 perkilo. Masalahnya tana’a momia kon petani minta  toigu modayit  moliondok bui mo munak kon toigu sin ingaton bolinya na’a diya mo sesuai takin lopi mogaid.

“ Yo na’anda pa aka mota’aw mojujur penghasilan panen  nami  taong  tana’aaya,  diya moko tompod kon kaparluan pomoloi singgai tonga moyobobot kon pogogutat mulai maya kon kopatoian bo ponikaan, diya pa doit sikolah adi, bo doit toya pomoloi singgai” O’uman I Firman.  

Kaluhan notongkai pinoguman doman in petani ibanya, Ulog Potabuga petani intaw Mongondow Kecamatan Kota Selatan (Kotsel) tana’a, kai’nia boli in toigu manangka  noponag  yo pinogogitog in mototibo kon toigu bolinya manangka tua  bolinya totok bi noponag.  

 “Panen Taong tana’a Bolinya totok don noponag  tapi mokoherang  bi  sin bolinya noponag bambi moibaya kon musim panen”. Kai Ulog , Kamis  (29/01)

. Harapan monia kasi, pomarinta minta kon Kotamobagu indeyay pa nasib nami na’a. “Intongay  pa  boli  toigu  na’a ule  ba oyuon pa  po taluyan nami kon keperaluan kobiagan nami” Tua pa  pinodapot  mako kon  intoi kotamobagu    

Rabu, 28 Januari 2015

Dua Jurnalis Progresif di Bolmong Jaman Doeloe



Penggalan karya jurnalistik Tempo Doeloe
Bolaang Mongondow (Bolmong)  tempo dulu memiliki jurnalis yang progresif pada masa itu, mereka adalah dua orang bersaudara Anton Cornelis Manoppo dan Johan Manoppo, melalui karya jurnalistik mereka berdua yang cukup kritis itu sering dikenai Hak “Exorbitan” larangan berdiam diri atau pengasingan di daerah tertentu sebab tulisan-tulisan yang dimuat pada surat kabar berbahasa belanda De Courant Nieuws van de Dag yang diterbitkan dipulau jawa di hindia belanda tersebut justru dianggap menganggu keamanan dan ketertiban diwilayah Hindia dan Belanda  Oleh Gubernur Jendral di Batavia kala itu. 

"arsip koran itu sayangnya masih tersimpan di perpustakan KITLV Leiden Belanda” Tulis Penikmat Sejarah,  Ayi modeong dalam akun FB nya

Salah satu tulisan  yang cukup progresif  karya jurnalistik Johan Manoppo adalah tentang penyalah gunaan keuangan di swapraja Bolmong pada tahun 1938. Selain itu Johan juga pernah menerbitkan koran Rakjat Bolaang Mongondow yang sempat terbit beberapa edisi. Sementara Anton Cornelis Manoppo selain menulis dengan gaya mengkritiknya, ia juga seorang aktifis pergerakan pada zaman Negara Indonesia Timur (NIT) tahun  1946, Anton menjadi anggota parlemen dalam fraksi yang progresif dengan  melawan belanda bergabung dengan republik di Jogjakarta setelah NIT.

Jenis Seni Kerajinan Orang Mongondow



Dari berdasarkan penelusuran blogspot Lp, terdapat sejumlah jenis seni kerajinan orang mongondow yang nyaris punah, Tim berinisatif mengankat kembali beberapa jenis seni kerajinan tersebut yang pernah di tulis oleh Bernard Ginupit, pada bukunya  Kebudayaan Daerah Bolaang Mongondow, 1996. Nah, demikian jenis kerajinan orang mongondow 

Menganyam Tikar Rotan Atau Patang,  adalah tikar yang dikerjakan oleh seorang pria, biasanya menggunakan bahan rotan untuk dijadikan tikar

Menganyam Tikar Pandan atau biasa di sebut Bolad. Tikar ini menggunakan bahan yang sama hanya saja bahan tikar tersebut diberi warna-warni mulai merah,hijau,kuning, biru dan ungu biasanya yang membuatnya adalah seorang wanita

Tempat Sirih Pinang atau Kabela, wadah tersebut dibuat dari Gabus pelepah rumbia yang dihiasi manik-manik halus berwarna-warni dengan berbagai  motif ada yang bergambar manusia, binatang, atau daun tumbuhan. Bentuk kabela seperti kotak segi empat  berukuran panjang kira-kira 20 cm, memiliki lebar kira-kira 14 cm dan tinggi kira-kira 12 cm. Bagi wanita yang membuat Kabela biasanya dipakai menjadi khiasan dirumah.

Membuat Tudung Saji (kokusadi) Yang terbuat dari gabus pelepah rumbia berbentuk kotak, silinder terpancung, piramida terpancung atau prisma. Dibungkus dengan daun silar yang diberi warna-warni sama seperti warna pada kabela. 

Serta beberapa alat pelengkap kebutuhan rumah tangga dan pribadi yang terbagi berbagai macam diantaranya, Tempat penampisan beras atau Dodigu, Keranjang Atau karansi, Kuyon Buta atau belanga tanah, pingku atau piring yang terbuat dari pelepah rumbia, uka atau tempurung yang dijadikan mangkuk, Dodangoian atau alat masak sagu, Dulang atau loyang terbuat dari kayu,dan  Kalalusu atau alat tapis,Kodapa tempat pembuangan sampah, serta  Lotung atau lesung.

Bukan  hanya itu, juga terdapat kerajinan membuat alat penangkap ikan seperti Pole sebuah anyaman dari bambu yang berbentuk bulat mengerucut, Tomoing atau Anyaman bambu berukuran besar, Kalenda adalah jaring ikan,Keambu seperti jaring ikan tapi dengan ukuran kecil.  Juga terdapat kerajinan menempa besi dengan cara membuat Parang  atau pitow dan pisau atau Tosilad.

Selasa, 13 Januari 2015

Bungko asal kata “ Berbongko-Bongko” yang artinya Bukit

Desa Bungko adalah salah satu desa yang berada dikecamatan Kotamobagu Selatan (Kotsel). Dari informasi yang dihimpun, Desa Bungko berdiri pada tahun 1911.  Diceritakan sebelum menjadi sebuah desa kabarnya lokasi tersebut masih berupa pendukuan dengan kondisi geografis tanah yang berbukit-bukit.  
Saprudin Paputungan, Sangadi Desa Bungko
Seiring berjalanya waktu, jumlah  warga di pendukuan itu semakin membanyak, para warga lain seperti Tabang, Kopandakan dan Matali  mulai berdatangan, Akhirnya para warga yang berasal dari berbagai macam kampung itupun membentuk sebuah wilayah adminitrasi yang diberi nama desa Bungko atau dalam bahasa mongondow Bongko yang artinya bukit. Desa Bungko menjadi desa Definitif pada masa pemerintahan sangadi (Kepala desa.red) Babuyongki Makalalag (1911-1914).

Sejak diresmikan desa bungko maka pada tahun 2011 jumlah penduduk desa sebanyak  1.506 Jiwa yang terbagi menurut jenis kelamin, laki-laki 681 jiwa dan perempuan 825 jiwa serta memilik luas wilayah 7,25 Km2. Desa Bungko yang masuk dalam Kecamatan Kotamobagu Selatan (Kotsel), pada tahun yang sama pula warga desa Bungko mendirikan Tugu Monument Peringatan 1 abad lahirnya  desa bungko dari tahun 1911-2011 tepat disamping lapangan sepakbola.  
Monumen peringatan 1 abad berdirinya Desa Bungko
 Adapun masa kepemerintahan atau sangadi sejak berdirinya Desa Bungko terdapat 26 kepala desa diantaranya, Babuyongki Makalalag (1911-1914),  Uyun Tungkagi (1914-1918), Pajwa hasan (1988-1922), Djuani mokoagow(1922-1925), Sai paputungan (1925-1929), Tompjud paputungan(1929-1932), Antena mamonto ( 1932-1938), Losik lobud (1938-1940), Paka sugeha (1940-1942), Hein mangkat (1942-1944), Arsyad damopolii (1944-1946), Hi. Tome Gonibala (1946-1948), Simong Paputungan (1948-1949), Hi Tome Gonibala (1949-1951), Andup T Mokolindat (1951-1953), Paulus Balompampung (1953-1956), Hi. Tome Gonibala (1956-1958), Laute linu(1958-1959), Karel b dandi (1959-1961), Hi. Tome Gonibala(1961-1977), Awad tungkagi(1977-1996), Djana paputungan (1996-1999), Awad tungkagi (1999-2007), Syawal K Dandi(2007-2008), Asral Impe(2008-2009), dan Saprudin paputungan 2009 hingga sekarang.

Sementara itu, sejak kepempinan Saprudin, Desa Bungko mulai nampak pembangunannya, bahkan pihaknya ditahun 2015 ini akan mengfokuskan pada pembangunan diwilayah tersebut, salah satunya pembangunan sarana tempat ibadah. “ Saat ini kita lagi berupaya membangun Masjid” Singkat Sangadi Sambil Berpose dihadapan kamera untuk didokumentasikan.

Danau Moat Cikal Bakal Lahirnya Desa

Desa Moat adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Modayag Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim).  Desa Moat terletak di bawah kaki  Gunung Ambang atau berada dtepat di batas wilayah hutan lindung.
Desa tersebut,  dikabarkan hasil pemekaran dari desa Bongkudai. Diceritakan bahwa pada saat jumlah penduduk di  Desa Bongkudai semakin padat maka sejumlah  kelompok warga Bongkudai memisahkan diri,  sehingga membentuk satu pemukiman berada dikawasan Danau Moat. Seiring berjalanya waktu, jumlah kelompok di pemukiman tersebut semakin banyak,  maka pada tahun 1960 dibawah pimpinan  Sariyan Mamonto pemukiman itu dinamakan Desa Moat, yang diambil dari nama Bahasa Mongondow “Oat” yang artinya “Daratan bekas genangan air”.
Danau Moat
Danau yang berada dikawasan cagar alam Gunung Ambang dengan luas danau  617 hektar (Ha) itu,  adalah cikal bakal lahirnya sebuah Desa moat.
Pada tahun 1967  Mo’at didefinitifkan/ resmikan sebagai Desa yang sah oleh Bupati Un Mokoagow. Saat itu pula mulai dibentuknya kepemerintahan Desa, dimulai dengan  Sangadi Ismail Mamonto (1967-1986), Tawakal Mamonto(1986-1990), Yop Mamonto ( 1990-1992), Madi Mamonto (1992-1994), Ali O Mokoagow ( 1994-1996), Yop Mamonto (1996-2005), Rovier R Panggalila (2005-2009), Asrin Mamonto (2009- Hingga sekarang).
Informasi dirangkum, kondisi sosial yang berada di Desa tersebut, memiliki jumlah penduduk sebanyak 563 orang yang terdiri dari laki-laki 295 orang, Perempuan 268 dan  yang berkeluarga berjumlah 120 keluarga.
Sementara untuk pendidikan, terbagi beberapa kategori yakni, tidak sekolah 58 orang, Tamat Sekolah Dasar 160 orang, Tamat SMP 100 orang dan Tamat SMA 84 orang, dan sarjana hanya berjumlah 8 orang.
 Dari data ini, tentu masyrakat moat masih butuh penyerapan pendidikan serta pembangunan yang masih kurang diperhatikan oleh pemerintah.
Perkebunan Rempah-Rempah
Padahal  Masyarakat Desa Moat memiliki kekayaan hasil bumi yang cukup luar biasa, sebab ditumbuhi berbagai macam jenis sayuran, antara lain Sayur Kol, Bawang Batang, Kentang, Tomat, Soldrey serta berbagai macam tumbuhan rempah-rempah lainya, jenis rempah-rempah tersebut adalah sumber pendapatan bagi warga setempat. “ Biasanya para pemborong dari luar daerah datang disini ambil sayur dengan jumlah yang besar” ujar Asrin Mamonto, Sangadi Desa Moat.
Asrin Mamonto, Sangadi Desa Moat
Bukan hanya itu, bahkan di sekitar Desa Moat juga terdapat Pulau yang diberinama Pulau Libuton. Konon katanya pulau tersebut terdapat makam kuno sepanjang Tujuh meter yang ditumbuhi Batang Cabe dengan ukuran raksasa.
Pulau Libuton
“Pinoguman i ajusku kolipod pa, kon pulau tua Oyoun bi in Kuburan molanggo bo pangkoy mareta ta koloben pangkoy bango,”  (Diceritakan ibuku, dulu  di pulau tersebut ada sebuah kuburan kuno yang panjang dan ditumbuhi tanaman rica dan pohonnya sebesar pohon kelapa), cerita Sangadi, rria berumur 40an itu ketika  bersua dengan wartawan di rumahnya. Sabtu (10/01) akhir pekan kemarin.