Selasa, 09 April 2013

Kumpulan Hasil karya Fotografi Amatir

Kali ini. saya akan menposkan beberapa foto hasil karya saya,Yaa..mumpung camera baru, ni hasil jepret saya menggunakan camera Fujifilm Finepix HS25 EXR, Mohon kripiknya..

Simulasi Keamanan Polda Gorontalo dalam rangka pemilihan walikota Kota Gorontalo Periode 2013-2018 yang berlangsung ditaman taruna kota Gorontalo 

Serangkaaian simulasi Keamanan  

Ketika saat membebaskan Sandera 

 Bakso menjadi santapan sore itu                    

Hiasan dalam kamar pun menjadi Objek Fotografi 

Bunga-bungaan

 Pemandangan didepan Kos

 Ia tak pernah mengeluh, jejak  yang selalu ku tempu, ia selalu ada untuk ku.
Vega R menjawab semua impian

 Burung Yang sempat menyapa dipagi hari

Gelas-gelas rumah

 Clasik Sepeda

Nampak keunikan Lebah

Suasana pelabuhan Kota gorontalo, baik untuk tempat renungan

Saat Sore itu                                                                 

Crew

Memancarkan Aura Muda disiang Hari

Memperindah objek disaat kupu-kupu itu sempat menghinggap di batang bunga 

Bunga ditepi Jalan
 

Ba gayaaaaa....


Makanan Khas  Bolaang Mongondow, Sekuntum Kuyat Yondog

Sore itu, Hujan mengguyur Kotamobagu

Melewati  Arus air sungai yang deras
Foto Bulan:Gambar ini diambil pada  Senin,(29/04) pukul 23:55. 
Iso 200 Expore time 1/80 Aperture F/6.








Senin, 11 Maret 2013

Mendulang Kesuksesan Didalam Perut Bumi


Teringat sebuah film inspirasi dengan judul Negeri 5 Menara “Man jadda wajada”, artinya siapa yang bersungguh-sungguh, niscaya ia dapat. Begitu ungkapan seorang guru dalam memotivasi para siswa-siswinya, ketika sebuah pisau  yang dihantamkan pada sebatang kayu yang besar, terus, terus, dan terus akhirnya terpotong juga.

Petikan sebuah peristiwa yang sangat mensiprasi itu, membuat ku terbangun dalam tidur yang panjang setelah sempat bermimpi dan berhayal. “ jika kita ingin uang maka kita harus bekerja” yaa..bekerja.
Hari ini, minggu 10 maret 2013, saya dikejutkan dengan salah seorang Warga Mopuya Kecamatan Bone raya, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.
Kata dikejutkan disini bukan hal yang berbaur negatif, akan tetapi lebih kepada hal yang bersifat Positif, dan jelas menginspirasi.

Orang tua Pria, yang bertubuh lemah berpenampilan “Rakyat”, layaknya orang yang tak punya apa-apa, Saini namanya, saya terkejut dengan sosok pria itu, setelah dikejar deadline untuk membuat berita dengan pos Liputan Kriminal, semuanya hilang seketika ketika  berbicara dengannya.
Saini dengan raut muka yang lemah itu, ternyata sudah mampu menanggung beban hidupnya sejak kelas dua Sekolah Dasar (SD), Sejak orang tuanya meninggal. Diceritakannya, pada  waktu itu, ia sudah mulai bekerja, berpindah-pindah, dari kerja satu, ke tempat kerja lainya. Bahkan ia sempat pergi ke luar daerah Gorontalo, menado, bitung hingga Kotamobagu hanya untuk menyambung Hidupnya.
Usia yang bisa dikategorikan sebagai ucapan Gorontalo “masih lagi” itu ternyata, meraih kesuksesaanya pada usia yang ke  50 tahun, setelah bekerja sebagai seorang buruh penambang tulen, langkah awal yang ia gunakan adalah dengan mengambil resiko diusia yang “masi lagi”,  membuat ia saat ini hidup dengan semua berkecukupan.

Hal yang biasa, jika orang yang pulang dari tambang dan sukses , namun bekerja tambang dari usia SD, itu baru luar biasa. Tak sampai disitu, bahkan ia pun selalu memberikan motivasi dan kontribusi bagi karyawan dan pemerintah setempat dalam pembangunan infrastruktur, salah satunya sebuah mesjid dan  jalan yang berada didesanya. Ia juga tak pernah lupa bahwa masih banyak rakyat diluar sana yang butuh uluran tangan orang-orang sukses.

“Insyallah, 20 persen harta saya, saya peruntukkan kepada rakyat kurang mampu “ ucapnya sembari minum kopi bertiga dengan salah satu rekan  saya.
Saini warga lokal yang berjiwa rakyat mampu menunjukan kesuksesaan itu dengan berpedoman pada pepatah klasik arab  “Man jadda wajada” segala sesuatu kalau dikerjakan dengan sungguh-sungguh dengan upaya dan niat yang kuat, insyallah akan ada sesuatu yag terturkarkan.

Sosok manusia  yang bekerja keras  mendulang emas didalam perut bumi  hanya demi satu tujuan yang ingin  dicapai yakni  Kesuksesan.

  


Senin, 04 Maret 2013

Wartawan Majalah Bobo??




TAMPANG wajah yang serius, hati yang penuh harap,ditambah lagi dengan naiknya andrenalin, rasanya ingin berada digarda depan sambil berteriak,"ayo tunjukan keahlianmu"  ketika  menonton salah satu program kontes music/vokal di stasiun Tv Nasional dalam program X Factor.
Pada malam itu, setelah masuknya puncak keseriusan dimana juri-juri sedang mengambil pertimbangn untuk menilai para kontestan "Andalan", menyusul dengan salah satu MC mengatakan," sebelum kita dengarkan hasil dari juri, marilah kita lihat dulu pesan-pesan berikut ini"
Puncak jiwa semangatpun turun dan kembali normal setelah beberpa iklan ditayangkan. tiba-tiba Henphone berdering nada sms,  " bro ada kebakaran dijalan Hos cok0roaminoto, segera merapat kesana". kurang lebih seperti itu bunyi sms tersebut.

Ketika sesampainya dilokasi, bersyukur karna momentnya pun belum terlewati, Kamerapun siap ditembakan. Api-api kecil yang masih melahap beberapa barang cukup menggambarkan bacround kebakaran.
bagi seorang Wartawan apalagi Photografer, moment itu sangat penting, bahkan lebih penting dari malam pertama..hehehe..
menurut keterangan   warga, dimana pemilik rumah  bernama katakanlah Am. bertempat dijalan Hos Cokroaminoto Kota selatan, Kota Gorontalo, tanpa berkata lebih, warga itupun langsung pergi.
informasi ini kurang puas, sebelum menemui korban langsung untuk diwawancari.
berjalan sambil bertanya,sering-sering menyelinap  di samping mobil Pemadam Kebakaran (Damkar) ,dan akhirnya dapat juga. 

Dari kejauhan saya melihat sosok Narasumber menggunakan baju orange, memakai cicin layaknya pria sejati serta memakai topi ala Maherzain. perlahan-lahan mendekatinya, mencari celah dan spontan untuk mulai bertanya, " Pak, saya dari pers" kataku. sebelum melanjutkan pertanyaan, saya dikejutkan dengan sapaannya " adduuuhh, maayyeee, saya lagi histeris nih," .
Alangkah terkejutnya saya, ketika mendengar suaranya, ternyta si Am ini, merupakan species manusia Amfibi, ketika menengok keatas, papan nama bertuliskan Kapsalon, wahhhh, ternyata yang terbakar adalah kapsalon.
suasana kepanikan, antusias, saat menonton X factor langsung diredupkan oleh pertemuan itu, tanpa memberikan kesemptan saya bertanya, Am langsung menyambungkanya dengan kalimat
 " kalau mo dilihat wajah mu,  cocoknya jadi wartawan majalah Bobo." terang Ia kepada saya dengan nada tertawa kecil.
Gila ngana Am...!!”,tegas saya, sambil melihat api melahap rumahnya perlahan tapi pasti, Mudah-mudahan..






Sabtu, 23 Februari 2013

Tendensi Politik Terhadap Akademisi




Gorontalo- Menjelang pilwako disalah satu daerah memang sangat memprihatinkan, setiap saat ada-ada saja tokoh politis yang coba mengecam para oknum masyarakat yang mencoba untuk menegakan demokrasi di daerah itu sendiri.

Beberapa hari lalu, saya dihubungi oleh rekan seprofesi saya untuk bertemu salah satu akademisi, tujuannya adalah untuk meminta tanggapan kepada akademisi terhadap pilwako 2013 ini, salah satu akademisi yang bergelar Docktor yang bergerak dibidang Politik.

Sepanjang jalan menuju rumah akademisi itu, dengan mengendarai Motor Vega R, saya mencoba untuk merangkai pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan ditanya pada saat bertemu dengan Magister tersebut.

Setelah sampai dirumah yang cukup mewah, sesuailah dengan ukuran pangkat oleh megister itu, berjabat tangan dan senyum sapa, rekan saya yang bernama Eka memang sudah kenal dekat dengannya, pembicaraan dimulai dengan kata pengantar basa basi, “ bagaimana kabar” dan seterusnya, setelah itu, diperkenalkan lah saya kepada akademisi itu.


Saya memulai percakapan dengan suhu politik yang memang panas, maksud kedatangan kami disini adalah dengan meminta padangan anda terhadap pilwako 2013,  apa pandangan anda?, Tanya saya.

Tokoh Akademisi yang bergelar Doktor itu pun, mengatakan  “wah ini bukan rana saya, saya hanya dua tahun belajar politik,  bagi saya, ilmu ini belum ada apa-apanya “ terang ia kepada saya.

Maksud bapak seperti apa?. Tanya ku lagi.

Begini de, “ saya ini hanya mempelajari ilmu politik mungkin lebih kepada Psikologinya” jawabnya Doktor.

Nah, berarti kedatangan kami memang sudah tepat pak doctor, “secara penilitian dilapangan, menjelang pilwako,sangat berdampak pada psikologi masayarakat, khususnya para Pegawai Negeri, salah satu contoh, jika setiap Pegawai Negeri Sipil diarahkan untuk memilih kembali kepala daerah yang saat ini menjabat walikota, sepertinya mereka dikunkung atau berada digenggaman para penguasaha itu, bahasa kasarnya mereka takut untuk memilih Calon lain selain yang menjabat walikota saat ini,  apakah ini tidak adanya kebebasan demokrasi ? inikan memang jelas berdampak pada  psikologis? “. Tanya saya lagi dengan nada yang penuh harap.

Jawabnya “ De, kita sudahi saja pembicaraan ini, saya hanya takut untuk bicara politik, saya sarankan untuk pergi ke teman saya, mungkin dia bisa bantu” tutupnya.

Setelah itu, saya dan Eka pergi dan pamitan.

Saya tidak habis fikir, Akademisi yang bergelar Doktor, Kenapa takut untuk memberikan pandangannya terhadap politik,ada apa sebenarnya?, apa mungkin Ia benar tentang kesadaran Ilmunya,atau mungkin Ia juga diberada digenggaman penguasa itu, sehingga ia takut untuk memberikan pandanganya.

Akademisi yang merupakan gerbang atau pilar  demokrasi saat ini tak berkutik, maka izinkan saya untuk meminjam kalimat Naga bonar "apa kata dunia".














Minggu, 10 Februari 2013

Ketertarikan Pada Sebuah Buku

Assalamualaikum.Wr.Wb.
Salam Robayat bo Utat.

Tak sengaja saya sempat membuka sebuah situs dari salah satu anggota Komisi IX DPR Rieke Diah Pitaloka, Yang juga mempunyai latar belakang Aktris 90an sejak itu.
Tulisan yang terpapar dalam sebuah Website itu merupakan   persepsinya terhadap “Kekerasan Negara” Membuat saya termenung dan menganggukan kepala.
Ada beberapa hal yang ia tulis, namun, saya coba untuk memperkecil lagi wilayah maksud dari buku tersebut,  diantaranya ada empat kekerasan yang dibuat/direkayasa oleh sekelompok orang yang mempunyai kepentingan dalam konflik disebuah negara, diantaranya :
  • Represi yang dilakukan secara langsung oleh aparat negara dengan berbagai sarana koersifnya.
Menurut admin :   Ini sebuah  kejadian atau persitiwa yang memang terjadi begitu saja. Atas dasar dengan mempunyai fasilitas yang mampu “menakuti-nakuti” rakyat sehingga sewenang-wenang, bisa membuat  gerakan yang radikal oleh pihak aparat, saya setuju dengan poin pertama. 
  •   Melatih paramiliter menjadi kelompok setia kepada penguasa untuk melakukan tugas-tugas kotor (kriminal) dengan membungkam, mengintimidasi, memeras, meneror. menculik, sampai membunuh.
Menurut Admin :  Hal ini tentunya tak asing lagi ditelinga, kita lihat Hitler dengan Ideologinya, dimana Ia mampu untuk merebut negara jajahannya hanya dengan memanfaatkan fasilitas militer dan aparat. Bisa hal yang mungkin  ini terjadi di indonesia, dan mungkin memang terjadi, putar kembali fikiran anda tentang tragedi tumbangnya sukarno, dan G 30SPKI. Sungguh analisis yang tajam. Saya setuju dengan poin kedua.
  • Melatih para kriminal (preman) untuk melaksanakan proyek insidental seperti kerusuhan,                      penculikan,                  atau pembunuhan.
Menurut Admin : Melihat dari skala indonesia mungkin belum banyak yang mengetahui tentang peristiwa seperti ini, tapi bukan berarti itu tidak pernah ada, salah satu contoh di daerah Indonesia bagian Tengah, disebuah daerah dengan semboyan Adat bersendikan  Sara dan sara bersendikan kitabulah. Sudah menjadi hal yang bebas dikalangan masyarakat ,dimana walikota mempunyai sekolompok orang yang berada di garda depan untuk melawan siapa saja yang berani membangkang yakni premanisme. Saya setuju dengan poin ke tiga.
  • .  Menciptakan konflik horisontal antarkelompok masyarakat yang berbeda etnis/agama.
Menurut Admin : Sangat jarang memang orang bisa membuat rekayasa seperti ini, harus  memerlukan kondisi yang matang tapi apapun itu, namanya kepentingan semuanya pasti bisa dikorbankan. Tragedi poso, tragedi maluku. Papua, semuanya bisa jadi hanya rekayasa. Sangat setuju.
Sekian dulu  catatan tanpa makna dan analisis yang bangkung.
Pahlawan tanpa tanda pengenal

Senin, 04 Februari 2013

Spirit Demo tergantung pada sebuah "Es"

Es merupakan sebuah  makanan yang dilahap pada saat ketika orang tersebut haus, Akibat terlalu lama dalam  aktivitas yang terkontak langsung dengan Matahari sehingga setiap orang merasa dahaga selain Air, juga ingin merasakan sebuah  es demi mereda rasa itu. Kurang tergantung, rasa apa yang ingin anda pilih untuk memenuhi kebutuhan rasa “butuh” tersebut.

Beberapa akhir ini, saya selalu melihat sosok pedagang Es ditengah-tengah para demontrasi, sejauh yang saya kenal, Ia merupakan salah satu bagian dari para demonstrasi.

Namun, kali ini saya tidak akan membahas tentang lebih detail lagi terkait demontrasi tersebut, yang saya lihat adalah perjuangan tentang pedagang.
Setiap kali  demontrasi, ia selalu ada ditengah-tengah, membawa sebuah tempat es yang berwarna merah muda dan menggunakan baju  seadanya serta penutup kepala (topi)  sambil berteriak Es..es..es..es diantara rerumbunan masa.

Suaranya pun  tak  kalah kuat dengan para masa demontrasi dengan menggunakan  perangkat aksi, seperti megaphone dan speaker aktiv, semakin kuat para Korlap berteriak dengan semangat, maka semakin kuat pula suara dari pedagang itu dengan lantang mengatakan Es..es..es..es. !!
Saya tak pernah habis fikir, disaat dan kondisi seperti ini masih ada yang memanfaatkan situasi, padahal kan demontrasi itu selalu identik dengan Anarkis, bisa jadi, hal-hal yang tidak mungkin akan terjadi.
Demontrasi yang memakan waktu berjam-jam bahkan sehari, ternyata membuat mereka kewalahan dan haus, disaat itu juga pedagang itu memanfaatkan situasi dengan menawawarkan Esnya kepada rerumbunan ,masa, “ es pak”, katanya. Ia menambahkan, pedapatan saya untuk Demo ini bisa lumayan, “ pendapatan kita kurang tergantung berapa lama mereka berteriak” Kata ia, disela-sela menawarkan Es kepada saya.
Selanjutnya dari titik aksi ke satu, kedua sampai pada titik aksi demontrasi terkahir, Ia selalu ada dalam setiap pergerakan.

Dari pantauan saya selama dalam pengawalan Aksi, Ia adalah orang yang seharusnya diberi perhatian, sebab dengan memakan esnya sangat membantu untuk mengisi kembali sprit para demontrasi, jadi baik korlap, maupun masa yang ada,Tentunya  akan membeli Es nya demi mereda Rasa haus.  Demi membangkitakan kembali rasa demontrasi itu, ditolong dengan sebuah es buatan pedagang Yang tak ingin Dikenal namanya.


Minggu, 03 Februari 2013

Menerobos “Ruang” hanya dengan “waktu 5 menit”



Beberapa hari lalu saya sempat membaca sebuah buku dengan judul “Menaklukan Gunung-memoar pencari tuhan”, awalnya saya membeli buku itu, hanya sebatas pengisi sebuah kesepian yang setiap  hari saya rasakan.


Pulang kerumah, merapikan tempat tidur dengan posisi bersandar dan dialasi bantal ditemani kopi dan beberapa batang Rokok merek Local (Ambang Baru),setelah itu saya mulai membaca buku yang baru kubeli itu, seperti biasa sifat buku yakni beberapa lembaran pertama hanya berbicara tentang mukadiman, lembar perlembar saya baca, tibalah pada lembaran tengah entah halaman berapa, seakan-akan tahu atau mungkin mampu menjawab sebuah pertanyaan yang saya sendiri pun tak tau apa jawabnya..tentang cinta,tentang hidup,tentang tuhan, manusia dan Alam, Hhaa..

Persoalan-persoalan itu berputar difikiran saya entah kenapa, apa mungkin Karena semasa saya ikut organisasi baik extra maupun intra  yang menempatakan posisi pada oposisi dan belajar tentang filsafat dan tidak tuntas sehingga menjadikan saya, “error”.


Setiap kata yang terucap dari saya, akan saya pertanyakan kembali pada hati..entah kenapa??! Seperti hidup didunia perang, serangan bertubi-tubi oleh rasa,pengetahuan,logika membuat Jati diri disudutkan atau tidak pede lagi berucap.

Seiring berjalanya waktu membaca,tidak disangka ternyata waktu sudah berjalan cepat, saya baru sadar bahwa ternyata  Pertanyaan-pertanyaan itu, telah membawa saya berimajinasi tinggi, pertanyaan tinggi , yang dikendarai oleh Buku itu.


Tanpa disadari Buku itu mampu menerobos  Ruang-ruang hati hanya dengan waktu 5 menit saya membaca, sayangnya buku itu, baru saya baca pada bagian tengahnya, jadi maaf saja, artikel ini akan dilanjutkan pada waktu yang akan dating dan kesempatan yang entah kapan,,hehehehehehe..

Salam tabi bo tanob