Sabtu, 05 Oktober 2013

Hanya Sekedar Simpati Saja

Perkenalan bermula dari sebuah Media Online yang dinamakan dengan “Wechat” Pertemuan itu tidak cukup lama, hanya berkenalan dengan menggunakan Media Social wechat yang juga merupakan media hampir sama persis dengan Facebook, hanya saja ada beberapa Item dan Fitur yang tak bisa kita ketahui, dan sifatnya  “Privasi”.

Ia seorang  wanita, Berjilbab sesuai dengan Foto Profil yang Ia pasang,  tak tau seperti apa karakternya, Maklumlah kita belum langsung bertatap muka, tapi yang jelas dari gambar-gambar yang Ia buat mampu menggambarkan sifat keaslinya. Apapun yang ia rasakan selalu saja diungkapkan dengan Gambar-Gambar Itu.

Dibawah ini beberapa karyanya yang hanya digambar dengan sebuah peralatan mengambar seadanya.


Saat Sang Pria Memberikan Bunga Kebahagian
kepada Sang Istrinya.
 Ini membuktikan bahwa Kebahagian itu bukan dinilai dari
semahal dan sebesar apa materi yang kau berikan tapi ketulusan, kecintaan dan kesetian itulah yang perlu

Entah Siapa Ini, yang pasti  seorang kekasihnya

Gambar dihutan yang dikeliling pohon rindang sambil berdua
 rasanya ada kebahagian dan harapan disana

Mungkin Dia lagi sedih..Kasihan
Apapun yang terjadi tetaplah tersenyum
Inilah dia


Hidup itu bagaikan seperti gambar-gambar itu, ada Harapan, Impian, Senang, Sedih tapi pada akhirnya Kau adalah kau sebenarnya. Semangat dan terus berkarya Prily Dotulong..

Selasa, 10 September 2013

Rindu Dengan Bangselang

Bolaang Mongondow – Jauh berpuluh-puluh tahun lalu kata Bangselang sering terdengar di telinga kita apalagi kalau saat malam tiba. Kata Bangselang menggambarkan sosok manusia yang jahat dan bertubuh besar, tugasnya adalah menculik anak dan membunuhnya, salah satu bagian tubuh dari anak tersebut akan diambil dan ditanam dalam suatu bangunan entah itu Jembatan, Mall dan Perkantoran tujuanya agar bangunan tersebut bisa tetap berdiri dengan  kokoh dan kuat.
Ilustrasi 
 Menurut perkataan orang tua dulu, Bangselang ini sering keluar malam berjalan diseputaran Bolaang Mongondow untuk menculik anak dan memenggal kepalanya serta badanya dibuang. Sosok bangselang ini pun digambarkan dengan manusia yang berbadan besar dan wajah yang sadis.

Fenomena ini menjadi kebiasaan bagi masyarakat setempat untuk menakut-nakuti seorang anak.  kata bangselang kerap muncul saat anak-anak keluar malam, “Lua’i au, Oyu’on in Bangselang ” yang artinya jika anda keluar maka akan ketemu dengan bangselang. Meski banyak anak-anak yang tetap memaksa untuk keluar tapi sebelum jam sembilan malam ia akan pulang dengan secepatnya. Sebuah mantra yang ampuh meski Bangselang ini tidak pernah dilihatnya.

Seiring berjalanya waktu, Kata Bangselang kian memudar bahkan hilang ditelan zaman, kini anak-anak bebas keluar malam dan pulang kapan saja Ia mau. Rindu dengan  Sebuah kata mantra ajaib itu, kapan lagi ia ada di bumi totabuan ?!

Jumat, 19 Juli 2013

Belajar Hidup dari Dudung

Sebuah petikan kalimat yang cukup menginspirasi Yakni “ Kita berjuang untuk hidup, ataukah untuk hidup kita harus berjuang ” pekikan sebuah kalimat yang penuh makna. 

Salah satu pria keseharianya berprofesi sebagai petani membuat mata ini   terbuka lebar, sesaat ketika melihatnya  melintas didepan rumah. Saat itu, ketika hujan begitu deras terlintas seorang petani yang memakai baju kusut, penutup kepala  serta membawa  hasil pertanian dengan bersepeda, tak kenal hujan dan panas ia tetap berjuang demi memenuhi kebutuhan pribadinya.

Dudung namanya, Pria asal Mongkonai Kecamatan Kotamobagu barat, berjuang demi memenuhi kebutuhan pribadinya. Tak kenal hujan, panas, badai Ia tetap harus pergi ke kebun untuk mencari nafkah. Tuntutan hidup memang mendesak Ia untuk tidak mengenal sakit. Terkadang kita lupa orang-orang disekitar kita butuh untuk diperhatikan
Sosok seorang yang tekun, bekerja dengan ribuan benih dan bibit yang berukuran kecil dan luas lahan tentu membutuhkan ketekunan. Belum lagi mengelola lahan, memupuk tanaman, menjaga dari serangan hama dan penyakit serta memanen hasil sesuai umurnya tentu juga bukan pekerjaan asal-asalan.

Ditangannya,   nasib kebutuhan pangan manusia digengamanya profesi sangat keras bukan hanya memenuhi perut diri, namun menjamin kebutuhan pokok umat manusia. dititik inilah Dudung sanggup bertahan demi menjaga misi mulia.

Disi lain sisi dudung yang hanya bertamatan Sekolah Dasar (SD), hidup dengan kedisiplinan yang sangat tinggi, lihat saja sebelum ayam berkokok Ia sudah bangun. begitupun seterusnya,  Ia berfikir untuk tetap bangun pagi lebih utama daripada menghabiskan waktu untuk melepas lelah, Hidup dalam kedisiplinan adalah karakter yang harus melekat padanya. Dudung memang mengajarkan kita tentang makna dibalik perjuangan hidup ini.


Sabtu, 06 Juli 2013

Pemuda Setengah Tiang


Pemuda merupakan sebuah generasi penerus bangsa ini, beberapa ungkapan menjelaskan tentang kepemudaan, ada yang bilang bahwa pemuda adalah agent perubahan, ada juga yang katakan bahwa pemuda adalah generasi perusak, contohnya keterlibatan tawuran, minum-minuman keras dunia gelap yang lebih didominasi oleh pemuda sehingga citra pemuda merosot drastis , Lantas apakah masih ada kesemptan untuk memperbaiki semua itu ?? iya, masih ada. Namun kali ini saya tidak akan membahas persoalan itu,Saya tidak ingin bercerita  panjang baik dan buruknya pemuda itu, yang menjadi keprihatinan saya memanfaatkan momentum Pemilu  Legislatif  atas dasar bukan kemauan murni  mereka, akan tetapi paksaaan dari orang-orang yang ada dibelakangnya, orang tua dan keluarga.

Inilah yang menjadi prihatin, memang banyak sebagian pemuda yang terlibat dalam pencalonan Legislatif Kotamobagu 2014 nanti, namun tidak sedikit yang masuk didalam rana itu atas paksaan dari keluarga terdekat. Ketika ditanya apa tujuannya, ia pun menggelengkan kepala tanda tak tau, apalagi ditanya soal fungsi dari legislatif. memang saya tak pintar soal ini, apalagi soal Tupoksi lembaga tersebut, tapi melihat peristiwa ini saya cukup terharu, sangat dramastis rasanya.

Salah satu tokoh pemuda keturunan cina, yang berjuang dizaman Soekarno yaitu Sho Hok Gie, mengajarkan kita tentang kepemudaan, Ia melawan segala penindasan dengan tulisan-tulisannya, keterlibatan dia diberbagai organisasi, Film “jadi president” yang menceritakan tentang seorang Ofice Boy (OB) yang menjadi Presiden.

Disinilah kita bisa melihat bagaimana peran seorang pemuda bukan hanya sebatas ‘Iko Rame” dalam pesta, akan tetapi tau dan mengerti tentang maksud dan tujuan dari iko rame tersebut. Dan harus menjadi pegangan buat kita, saya, kalian, dan anda pemuda yang saat ini berjuang memperebutkan kursi Legislatif Kota Kotamobagu.  

Memang, sudah saatnya pemuda mengambil bagian dalam pesta legislatif nanti, tapi harus atas kemauan dan niat yang murni serta lahir dari jiwa pemuda itu sendiri, jika tidak, maka siap-siap mengangkat bendera setengah tiang dan menyanyikan lagu hening cipta tanda pemuda telah mati.


Kamis, 20 Juni 2013

Berlayar di Televisi

Ada sebuah tayangan film yang menceritakan tentang negeri perbatasan dengan tetangga (Malaysia ), tepatnya di Indonesia bagian barat yakni Kalimantan barat.

Diceritakanya, sebuah Kehidupan yang hidup dengan tata krama, Sopan serta Demokratis. Di kampung tersebut hidup seorang Kakek yang berumur sekitra 70an tahun, kakek ini mempunyai Dua orang cucu, Pria dan Wanita berumur sekitar 10 tahun, itu berarti duduk di Sekolah Dasar  (SD). Kakek yang setiap harinya menceritakan cerita perjuangan kemerdekaan kepada cucunya ini dengan semangat 45. sehingga setiap baru beranjak kesekolah para cucu tadi meluangkan waktu untuk mecium bendera merah putih tanda hormat. Selain itu  di kampung tersebut bendera Merah Putih hanya ada satu orang, yaitu Kakek itu sendiri. Saya cukup tersentuh menonton Film yang berdurasi 40 menit itu, ada sebuah Gejolak yang membakar semangat juang. Anehnya juga, Lagu kebangsaan dinyanyikan bukan lagu wajib akan tetapi lagu yang nyanyikan adalah lagunya Koes Plus dengan Jdul “Kolam Susu”. heran... Dalam perdagangan, mata uang yang dipakai menggunakan Mata uang Malaysia (Ringgit) Sungguh terlalu..

Setelah berlayar selama 40 menit mengarungi lautan film inpirasi itu, terbesit daerah kelahiran saya yakni Mongondow Bolaang, Jika cerita tadi ditarik ke Bolaang Mongondow maka ini tentunya persis sama, Budaya adat istiadat bahasa kian memudar.

Salah satu contoh, saat saya pernah berkunjung ke rumah teman, terdengar percakapan antara pemuda  “ Utat Ko onda iko?” tanya pemuda A, lantas pemuda B menjawabnya dengan “ Jangan bahasa planet kuaa,” ini salah satu fakta dari yang ada dilapangan, sebuah persitiwa yang bukan macam-macam lagi. Kalaupun saya terlalu mengebu-ngebu itu adalah salah satu bentuk Keprihatinan. Sebagai orang mongondow korot  saya menentang dengan orang-orang yang beranggapan atau sengaja serta gengsi memakai bahasa budaya kita. Pernahkah kita berfikir bahwa segala sesuatu yang ada dibumi totabuan ini adalah sebuah warisan leluhur kita,?! Pernahka kita berfikir bahwa bahasa merupakan bahasa pemersatu?! Cobalah untuk merefres sejenak tentang hadirmu disini.


Jangan sampai persitiwa yang ada di bumi totabuan akan terjadi seperti diatas, orang2 akan malu menggunakan bahasa, memakai budaya adat kita, jika nantinya itu terjadi maka siap-siaplah kita akan tumbang dan tak akan pernah bangkit kembali Mongondow tinggalah kenangan sebuah tayangan Film yang pernah ada di ilustrasikan kembali melalui televisi Tinggal sejarah. 

Senin, 03 Juni 2013

KPU Kotamobagu Diserang

Kotamobagu.- Ratusan personil diturunkan untuk mengamankan aksi masa pendemo yang tidak puas menerima keputusan KPU KK, Senin, (03/06) Siang Tadi.

Sejumlah kesatuan dan personil diturunkan diantaranya Kesatuan Brimob Polda Sulut, Brimob Kompi Inuai, personil Polres Bolaang Mongondow dan 1 mobil Watercanon, Barracuda serta beberapa alat perang lainya.

Masa Aksi yang telah dilumpuhkan
Masa aksi yang tidak menerima keputusan KPU terpaksa harus berbuat anarkis hingga menyerang dan melemparkan bom ke arah  Kantor KPU KK,  Sehingga situasi pun tak bisa teratasi.

Pasukan  pengamanan yang berseragam lengkap dengan  senjata ditanganya terpaksa harus membuang tembakan peringatan, Namun masa tidak peduli, sehingga polisii melumpuhkan 3 orang. Alhasil kondisi pun bisa teratasi. 

Itulah hasil Serangkaian simulasi Pihak Keamanan dalam rangka menjelang pilwako KK yang rencananya akan dilaksanakan pada Senin (24/06) nanti.

Minggu, 02 Juni 2013

Potulungan

Bolaang Mongondow – Masih banyak Orang Mongondow yang tak tau dengan persoalan adat gotong Royong ini, Gotong Royong yang berarti “Baku Bantu “ ini, tidak terlepas dari persoalan prosesi yang dilakukan, selain baku bantu dengan memberikan sumbangsi berupa tenaga, ternyata terdapat juga prosesi Gotong Royong dengan memberikan semacam Bahan Pokok. Dalam suatu contoh misalnya.“Ada sebuah pesta pernikahan,maka para tamu yang diundang akan memberikan bahan pokok berupa Beras, Laksa,Garam, Teh, Gula, serta bahan-bahan kering lainya,(Tergantung pada kemampuan materi oleh tamu). Setelah itu, bahan tadi akan ditempatkan didalam bentuk loyang serta dibungkus dengan kain.


Namun kebanyakan orang Mongondow membungkusnya dengan Taplak, entah mengapa, tapi mungkin saja ukuran taplak tersebut sesuai dengan wadah yang telah ditempatkan

Potulungaan artinya memberikan pertolongan kepada si penyeleggara pesta.Tujuannya adalah agar dapat meringkankan kebutuhan oleh para penyelenggara pesta tersebut, walaupun kondisi  penyelenggara “se-ada-nya” telah terbantu dengan kebutuhan Potulungan tadi. Mudah-mudahan dan Insyallah kegiatan Potulungan  ini akan terus berlangsung.